kisahPerbezaan Pendapat Tentang Rezeki, Anak Murid dan Guru🕊 IMAM MALIK DAN IMAM SYAFI'I🕊. #Imam_Malik ( guru Imam Syafii ) dalam majlis menyampaikan : Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah Haltersebut ternyata pernah menjadi perdebatan ulama besar: Imam Maliki dan Imam Syafi'i, yang keduanya merupakan guru dan murid. Debat itu terjadi. Ketika dalam satu majlis, Imam Malik mengatakan sesungguhnya bahwa rezeki itu datang tanpa sebab. Cukuplah kita bertawakal dengan benar. Maka Allah akan memberikan rezeki tersebut. Sebagaicontoh, perselisihan pendapat antara guru dan murid, Imam Malik (711 M-795 M) dan Imam Syafii (767 M-820 M). Imam Malik bin Anas yang merupakan guru Imam Syafii berpandangan, rezeki datang kepada setiap makhluk-Nya tanpa sebab-akibat. Dalam arti, seseorang cukup berpasrah diri atau tawakal secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta'ala. Kisahimam Syafii dan Imam Maliki Mengenai Konsep Rezeki Selasa, 20 Agustus 2019 Add Comment ini adalah Kisah Imam Maliki RA & Imam Syafi'i RA Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Masalah Rezeki. #Imam_Malik_RA (Guru Imam Syafi'i RA) Beliau berkata, : Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah Kepadasang guru, Imam Syafi'i mengajukan pendapatnya, "Wahai Syekh, andai kata seekor burung tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia akan memeroleh rezeki?" Dalam kesimpulan Imam Syafi'i, untuk mendapatkan rezeki diperlukan usaha dan kerja keras. Tidak bisa dengan hanya bertawakal, karena rezeki tak akan datang dengan sendirinya. KALBARTERKINI - Dua orang imam umat Islam yakni Imam Malik dan Imam Syafii punya pemahaman berbeda tentang rezeki. Sebagaimana manusia pada umumnya, keduanya juga memiliki pendapatan tentang rezeki yang Allah SWT berikan kepada manusia.. Berikut, kisah diskusi keduanya dilansir berbagai sumber. Andapasti berbohong dalam perkataan Anda tentang larangan Tahlilan oleh Imam al-Syafi'i." WAHABI: "Bukankah dalam kitab-kitab madzhab Syafi'i telah diterangkan, bahwa selamatan selama tujuh hari kematian itu bid'ah yang makruh, dan beliau juga berpendapat bahwa hadiah pahala bacaan al-Qur'an tidak sampai kepada mayit?" LADUNIID, Jakarta - Imam Malik (Guru Imam Syafi'i) dalam majelis pernah menyampaikan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rezeki. "Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya" TENTANGREZEKI KISAH IMAM MALIK DAN IMAM SYAFIE. Dengan bergegas Imam Syafii pergi berjumpa dengan Imam Malik yang ketika itu sedang duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatinya, Imam Syafii bercerita seraya sedikit mengeraskan beberapa kalimat, "Seandainya saya tidak keluar dari pondok dan melakukan sesuatu, tentu saja HubunganImam Malik dan Imam Syafi'i ini memang begitu dekat, antara guru dan murid. Imam Malik adalah guru Imam Syafi'i. Walaupun menimba ilmu di kolam sang guru, tetapi sang murid mempunyai pendapat berbeda. Buktinya mereka membangun mazhab berbeda. Meskipun demikian, keduanya saling menghormati. Ada kisah menarik tentang mereka. RLHJM. Home Hikmah Rabu, 15 Desember 2021 - 1752 WIBloading... Imam Asy-Syafii adalah salah satu murid terbaik Imam Malik, pendiri Mazhab Maliki. Foto ilustrasi/Ist A A A Imam Syafi'i wafat 204 H adalah salah satu murid terbaik Imam Malik, ulama pendiri Mazhab Maliki wafat 179 H. Kedua ulama besar ini punya kisah-kisah menarik yang dapat dijadikan hikmah dan satu paparannya, Ustaz Ubaidillah Arsyad menceritakan pujian Imam Malik kepada Imam Asy-Syafi'i yang menukil beberapa kitab. Dikisahkan, suatu hari Imam Malik pergi secara sembunyi-sembunyi ke belakang salah satu tiang masjid untuk mendengarkan sang murid Syafi'i yang sedang mengajar. Imam Malik sembunyi agar tidak menimbulkan rasa sungkan bagi Imam Syafi'i terhadap gurunya itu. Setelah Imam Malik duduk memberikan nasehat kepada orang-orang, beliau menulis di tiang masjidمن أراد العلم التفيس، فعليه بمحمد بن ادريس"Barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu yang berharga, hendaklah dia belajar dengan Muhammad bin Idris yaitu Imam syafi'i."Tatkala Imam Syafi'i membaca tulisan tersebut, beliau pun berkata "Aku yakin bahwasanya perkataan yang tertulis di tiang masjid itu adalah perkataan guru kita, Imam Malik".Maka beliau pun menulis di bawah tulisan itu dengan tulisanكيف لايكون ذلك؟! وهو تلميذك يا مالك"Bagaimana tidak seperti itu?, dia Imam Syafi'i adalah muridmu wahai Malik". Anisul Mukminin 81Dalam Al-Manhaj as-Sawiy 451 disebutkan, Imam Syafi'i membagi malam harinya menjadi tiga bagian 1/3 malam untuk sholat, 1/3 malam untuk belajar, dan 1/3 malam untuk tidur. Keterangan senada juga ditulis di Nurul Abshar Syafi'i adalah orang yang punya hafalan kuat dan punya kecepatan dalam menghafal. Sehingga beliau meletakkan lengan bajunya di halaman buku sebelah kirinya supaya hafalan halaman sebelah kiri itu tidak mendahului hafalan halaman sebelah kanan. Nafahatun Nasim al-Hajiri 195Seandainya 100 bait syair dibacakan pada Imam Syafi'i, niscaya beliau akan menghafal 100 bait syair tersebut seketika. Begitulah kehebatan Imam Syafi'i dalam heran ketika berusia 7 tahun beliau sudah hafal Al-Qur'an. Tak hanya sekadar hafal, namun juga menguasai ilmu tafsirnya, ulumul Qur'an dan segala macam ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur'an. Saat berusia 10 tahun, Imam Syafi'i sudah menghafal Kitab Al-Muwatta' kumpulan hadis karya Imam Malik. Baca Juga rhs imam syafii kisah kisah imam syafii imam malik imam maliki kisah imam maliki Artikel Terkini More 17 menit yang lalu 50 menit yang lalu 58 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu - Kisah ini bermula pada saat mereka berada dalam satu majlis ilmu, Imam Malik selaku guru pada saat itu membahas soal rizki. Berangkat dari sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan, "Andai kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian. Sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaaan kenyang." HR. Al-Nasa’i dan al-Tirmidzi. Berdasarkan riwayat hadits tersebut, Imam Malik sebagai seorang guru menyatakan pendapat bahwa, rizki itu datang tanpa sebab sehingga seseorang cukup bertawakal dengan benar. Jika memang bertawakalnya benar, Niscaya Allah SWT pasti akan memberinya rizki. Rupanya, Imam Malik memiliki pandangannya sendiri terhadap riwayat hadits tadi. Mendengar itu, Imam Syafi'i sebagai seorang murid mengajukan pendapatnya, ia bertanya kepada sang guru “Wahai Syekh, andai kata seekor burung tidak keluar dari sarangnya, bagaimana mungkin ia akan memeroleh rezeki?” Imam Syafi’i berpendapat bahwa untuk mendapatkan rizki memerlukan ikhtiar dan kerja keras. Tidak bisa dengan hanya bertawakal, karena rizki tak akan datang dengan sendirinya. Baca Juga Tips Agar Tetap Produktif Selama Puasa Mendengar pertanyaan dari muridnya tersebut, lalu Imam Malik menjawab "Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurusnya!" Dua ulama ini teguh pada pendapatnya masing-masing. Hingga pada suatu hari Imam Syafi'i keluar dari pondok, lalu melihat rombongan orang-orang yang sedang memanen anggur. Dia pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafi'i memperoleh imbalan dari hasil membantunya. Imam Syafi'i memperoleh beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Ia merasa bahagia sekali, namun bukan karena dia mendapat anggur. Melainkan pemberian tersebut telah menguatkan pendapatnya. Bergegas Imam syafi'i menjumpai gurunya, Imam Malik. Pada saat itu, Imam Malik sedang duduk saja di rumah. Saat menjumpai Imam Malik, Imam syafi'i memberikan oleh-oleh anggur itu kepadanya seraya berkata Baca Juga Waspada! Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Merusak Otak "Seandainya saya tidak keluar pondok hari ini, dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu saja anggur ini tidak akan pernah sampai ditangan saya.” Mendengar itu, Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata OLEH HASANUL RIZQA Setiap Muslim pasti meyakini, rezeki berasal dari Allah SWT. Namun, jalan memperoleh rezeki adakalanya menjadi perdebatan di kalangan alim ulama. Sebagai contoh, perselisihan pendapat antara guru dan murid, Imam Malik 711 M-795 M dan Imam Syafii 767 M-820 M. Imam Malik bin Anas yang merupakan guru Imam Syafii berpandangan, rezeki datang kepada setiap makhluk-Nya tanpa sebab-akibat. Dalam arti, seseorang cukup berpasrah diri atau tawakal secara sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala. Dengan kehendak-Nya, Allah akan memberikan rezeki kepada orang tersebut. Pendiri mazhab fikih Maliki itu mendasarkan pendapatnya pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang keluar pada pagi dalam keadaan lapar, dan kembali pada sore dalam keadaan kenyang” HR Tirmidzi. “Bertawakal-lah kepada Allah, lakukan apa yang menjadi bagian kita,” kata Imam Malik dalam sebuah majelis. Sementara itu, Imam Syafii memiliki pandangan yang berbeda. Murid Imam Malik itu menilai, ikhtiar atau upaya jangan sampai dinafikan. Saat sang guru menjelaskan perihal hadis tersebut, ia menimpali, “Wahai syekh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan memperoleh rezeki dari Allah?” Manusia lebih mulia daripada burung ataupun hewan lainnya. Sebab, Allah menganugerahkan kepadanya akal dan pikiran. Maka dari itu, lanjut sang pendiri mazhab fikih Syafii itu, untuk mendapatkan rezeki pun seseorang memerlukan kerja keras. Singkatnya, rezeki tidak datang sendiri. Manusia harus mencarinya melalui suatu usaha. Dialog di majelis itu berlalu. Beberapa hari kemudian, di suatu daerah Imam Syafii melihat rombongan kafilah petani. Mereka bergerak ke sebuah kebun anggur. Rupanya, musim panen sudah tiba. Imam Syafii tak hanya mengamati. Ia lantas mendekati seseorang dari rombongan tersebut untuk menawarkan jasanya. Setelah bernegosiasi dengan pemilik kebun, disepakatilah bahwa dirinya mendapatkan seikat anggur sebagai upah pekerjaannya. Dalam hatinya, Imam Syafii bersyukur kepada Allah SWT. Utamanya bukan karena mendapatkan pekerjaan “dadakan” itu. Sebab, dengan upah yang nanti didapatkannya ia dapat membuktikan kebenaran argumentasinya di hadapan sang syekh, Imam Malik. Beberapa jam berlalu, proses panen pun tuntas dikerjakan. Sesuai yang dijanjikan, Imam Syafii memperoleh seikat anggur dari si pemilik kebun. Setelah menghaturkan terima kasih, ia pun berjalan pulang ke kotanya. Ia segera menjumpai Imam Malik yang kelihatannya baru saja keluar dari majelis ilmu. Gurunya itu tampak sedang duduk santai, menikmati udara sore. Setelah mengucapkan salam, Imam Syafii pun menuturkan pengalamannya. Ia lalu memberikan seikat anggur itu kepada sang guru, seraya mengatakan, “Wahai syekh, seandainya saya tidak keluar rumah, berjalan ke daerah itu, dan ikut membantu para pekerja memanen kebun anggur, tentu saja seikat anggur ini tidak akan pernah sampai di tangan saya.” Sambil menerima buah nan segar itu, Imam Malik pun berkata pelan, “Seharian ini aku di dalam madrasah saja, tidak ke mana-mana. Sesudah mengajar, pikir-pikir ah, alangkah nikmatnya jika di hari yang terik ini aku bisa memakan anggur.’ Tiba-tiba, engkau datang kemari sambil memberikan seikat anggur ini untukku.” “Bukankah ini berarti rezeki yang datang tanpa sebab? Aku cukup bertawakal kepada Allah, selanjutnya biar Allah yang membukakan jalan untukku,” sambung Imam Malik. Mendengar itu, Imam Syafii seketika tertawa. Begitu pula dengan gurunya. Demikianlah, akhlak kalangan alim ulama dalam menyikapi perbedaan ikhtilaf. Masing-masing mengutamakan adab, jauh dari sifat saling menyalahkan. Tidak ada tendensi untuk membenarkan diri sendiri, termasuk dalam soal menyikapi rezeki. Masih terkait rezeki, dalam kitab Anta wa al-Maal 2003 disebutkan tentang dua pendekatan yakni asbaab maaddiyyah dan asbaab diniyyah. Yang pertama berarti terukur’. Maknanya, rezeki datang secara material melalui bekerja, usaha, ataupun ikhtiar. Sebab, Islam mengajarkan umatnya agar memiliki etos kerja. Jauhi sifat malas apalagi frustrasi sehingga terkesan “mengemis” belas kasihan orang lain. Dalam surah al-Mulk ayat 15, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah bekerjalah di segala penjurunya dan makanlah sebahagiaan dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali setelah dibangkitkan.” Sebagai gambaran, Allah Ta’ala juga menyuruh kaum Muslimin untuk mencari rezeki dan berkah-Nya sesudah mereka melaksanakan kewajiban ritual, semisal shalat Jumat. Dalam surah al-Jumu’ah ayat 10, dijelaskan, “Apabila telah ditunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada Allah dengan ingat yang banyak, agar kalian mendapatkan kebahagiaan.” Sementara itu, asbaab diniyyah adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan perilaku keagamaan individu maupun kolektif. Tidak hanya ibadah yang bersifat vertikal habluminallah, tetapi juga horizontal habluminannas, semisal zakat, infak, atau sedekah. Sebab, ketaatan kepada Allah Ta’ala akan mengundang rezeki yang penuh keberkahan. Hal itu disinggung dalam surah at-Tholaq ayat 2-3. Artinya, “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”